Kamis, 27 Desember 2018

Sepucuk surat untuk Tuhan

Tuhan...
Salahkah jika Aku mencintainya
Tuhan...
Aku berharap kelak kami akan berjumpa saat mentari kembali memijar

Tuhan...
rasa ini tumbuh begitu saja
Ketika dia sering memperhatikanku

Jika mencintainya adalah sebuah dosa
Aku mohon tolong hapuskan dia dari benakku
Hilangkan segala rasa yang ada

Tuhan...
Jika kami memang tidak bisa sejalan
Mengapa takdir mempertemukan kami pada titik yang sama

Aku sadar tak bisa memilikinya sepenuhku
Aku bukanlah seseorang yang pertama dihatinya

Tuhan...
Aku hanya mencoba menunggu
Tidak menganggu hubungnya
Apakah itu masih salah

Jika cinta tanpa harus memiliki
Barangkali mengenang kesendirian adalah cara terbaik menghibur hati
Sabar melihatnya mencintai orang lain yang bukan Aku

Tuhan...
Aku lebih memilih mendekap sepi daripada menjatuhkan hati kelain tempat
Bila bukan jemarinya yang mengisi erat jemari tanganku
Aku tetap ada untuknya

Tuhan...
Kembalikan dia tuk mencintaiku
Aku tak ingin kehilangannya
Aku ingin dia yang tadahi tetesan airmataku

Tuhan...
Aku ingin bersamanya
mencintainya sampai nanti

Rabu, 26 Desember 2018

Kemunafikan

Lantaran salah
Yang tak berakal
Alampun tak berpihak
Tindakannya nyaris berakhir tragis

Seperti tak beretika
Bicara yang tak karuan
Tanpa disadari
Ia terlarut dikedangkalan teramat sangat

Ku mencari segala peluang
Menjauhkan kuping dari suara histerisnya
Hingga denting baitnya tak lagi kutatap

Tak mampu kubakar

Setelah luka itu
Ada lagi yang lain
Menambahnya
Menjalar luas

Rintihan tangis
Memecah kesunyian
Hati teriris
Sakit terasa

Lagi
Lagi
Aku tersungkur
Berlutut
Meminta bantuan sang khalik

Aku tak berdaya dikala cinta tak sesempurna dulu
Aku gemetar ditinggal pergi
Penghuni hati tak berhati

Berjanji setinggi cakrawala
Berharap tak jatuh tersungkur jaman

Apalah daya waktu membawahnya pergi
Menepi ketepian lain
Mencari kesempurnaan lain
Layaknya ular berbisa

Kekasih dalam diam

Kenyaman ini berlangsung
Balasan pesan singkatmu meneduhkanku
Menyejukkan dari terik mentari
Setiap bisikan lembut yang melewati batas ponselmu seakan menghanyutkan logika untuk berpikir

Jujur Aku terkesima dan jatuh cinta
Pada sosok misterius berhati lembut
Sosok yang tak pernah kutatap mukanya dengan langsung
Hanya sebatas bisikan dikuping lewat ponsel dan balasan chat

Kepedulian yang berlebihan tapi dia tak pernah berpikir untuk mencintaiku
Aku tak mencintaimu ... "Katanya"
Lalu kenapa dia mengkhawatirkanku
Apakah itu bukan cinta
Entalah akupun tak paham

Jujur
Aku cemburu saat ada wanita lain yang disebutkannya
Aku berpikir aku tak pernah mencintainya
Saat kucoba untuk menjauh
Kenapa Aku malah semakin dekat

Marah ketika aku cemburu
Sedih saat yang diharapkan mengharapkan orang lain
Dia tak menginginkan hadirku
Hadirku baginya hanya puisi tanpa aksara

Aku tahu
Perbedaan memang ada
Perbedaan yang menyatukan
Aku tak memaksakannya untuk berdoa pada tuhanku

Kan kubiarkan dia berjalan dengan tenang hingga pada keabadian
kuikuti setiap jejak yang membekas dari telapak kakinya 
menggenggam erat tangannya serta menyembah tuhannya
Bersatu dalam Tuhan yang sama disetiap alunan nafas kehidupan

Jujurnya membunuhku perlahan
Sakit kurasa
Menguras airmataku
Sesakit inikah mencintai orang

Aku pikir setelah tidak ada kabar dariku
Dia akan membiarkanku berjalan sendiri
Tapi dia mendesakku
Terus memanggilku
Mengubah segala peluang

Akhirnya aku luluh dari keegoanku
Apakah itu juga bukan namanya cinta
Hanya dia yang tau
Tapi
Aku sudah terlalu nyaman dengannya
Terimakasih cinta tanpa ungkapan
Cinta hanya sebatas dalam diam

Segala kebohongannya bukan kebodohanku
Aku tau dia berbohong tapi jawabku hanya iya

Waktu yang direnggutpun kembali lagi
Lantaran dia mengunjungiku dikediaman yang kutempati
Mengisi ruang kosong yang sudah kupersiapkan

Pertemuan yang manis
Canda dan tawa bersama bagai melepas dahaga
Menghampiri ketika Aku dan dia berbincang
Tentang kenangan manis bersama rindu

Senyummu mengenyahkan sepi
Hadirmu memberi semangat
Sunyi tak lagi berkidung
Makasi sudah berkunjung
Walau hanya sesaat

Minggu, 09 Desember 2018

Puisi

Tinggal puing

Tersayat sembilu mengenang masa
Indah yang sekejap mata
Namun sakitnya tak terhingga
Jiwaku seakan sekarat nyaris mati

Cintamu tragis
hanyalah semu dibatas rasa sepimu
Cerita indah yang pernah berkisar
Kini termakan kusam

Hadirmu hanya seperti puisi
Tanpa aksara
Rinduku hanya diam terbungkam
dan tergores sunyi
diatas pualam zaman

Luluh
lantak berkeping-keping
Hanya sedih
menghujat relung hati

Makassar, 10 Sep 2018
Petronela Boleng