Sabtu, 16 Mei 2020

Puisi Merakit Kata

Mari merakit kata
Karya : Petronela

Untuk Tuan yang terhormat,
Aku hanya ingin musnahkan penat,
dari hari yang kian berat.

Kurakit kata makna seribu sendu,
menyerbu tiap-tiap dingin ponsel
Mengumpat tanda jemu
Perihal siapa, tak perlu Kau kenal.

Bukan mencari belas kasihan,
Bukan pula dipublikasikan agar mencari reputasi,
Yang  dituangkan hanya sebagian,
Selebihnya itu privasi.

Tak usah menduga-duga, lalu berprasangka
Tak usah berburuk sangka, nanti buruk rupa

Kata selalu mengambarkan isi hati,
Jika Ia marah barangkali ada salah
Namun kau tak mau kalah
Sampai tak ada yang mengalah

Mau cerita, cerita kesiapa
Yang baik kadang jahat,
Yang jahat kadang tambah jahat
Jadi, lebih baik merakit kata tanpa ada  sepasang telinga

Makassar, 16 Mei 2020

Senin, 27 April 2020

Puisi

Untuk Perempuan
🌼
_____________________

Hidup tak sebatas cinta-cinta belaka membangun obsesi gila yang mengelepakkan
menelan asa lalu kau bawa kabur mimpi-mimpi dan raga yang harus kau tawar untuk memuaskan birahi sang bajingan hingga rela gadaikan hartamu dalam hitungan semalam
Kau berharga sayang
Kita itu mahal

Jangan menunduk patuh saat kau diancam sampai takut
Kepalan tangan harus terdampar jika itu sudah terlampau
Kita bukan sampah sayang yang  dibuang sesudah dipakai dan la malah asik menghisap tiap batang rokok enambelas ribuan ketika lenguhmu mengisi tiap sudut ruangan

Buatlah hidupmu seperti vektor agar ternilai dan mempunyai arah

Makassar, 27 April 2020
Petronela

Rabu, 15 April 2020

Antara bernyawa dan mati
🌾
____________________________

Tentang hampa yang tak berujung
Tentang bahagia yang tak berani singgah
Tentangku yang tetap tenang
Dan juga tentangmu yang tetap angkuh

Pada senja yang merangkak
Aku berteriak
Dihati yang retak

Ketika kehampaan yang merangkul
Ketika kata-kata terhembus
Seperti asap pudar namun tak membekaskan apa-apa
Kecuali perih dimata dan racun dihati

Saat rasa menolak melupa
Selalu saja ada jiwa yang mengikis rasa
Aku hanya sebatas ada yang jelas-jelas telah kau tiadakan

Kita pernah menjadi dua insan terkutuk yang hanya saling berkicau tawa ketika sedang bernasib buruk
Jika nanti kita benar - benar dikalahkan oleh waktu kenang saja aku
Sekian _________

Bumiku, hari ini

Selasa, 07 April 2020

Padanya kutitipkan lelah

Ma...
Disini aku merangkul sejuta beban
Tanaman layu, kering dimakan waktu
Tubuh kurusku hujang disapa angin
Bertabu harap ingin temu

Ma... Rindu kini memburu
Lelah, marah, jengah hingga seolah tak terarah
Aku hanya butuh pulang memeluk erat ragamu
Hanya itu penawar dahaga tatkala lemah hingga lelahku terlepas dan pergi

Ma... Kepada senja aku mengaduh
Menemukanmu pada barisan doa
Walau diakhir doa kata menanti selalu hadir untuk titik jumpa

Malam kembali menerpa perlahan merebahkan pundakku yang kaku
Kuntum-kuntum kesunyian kini mulai mekar
Remang, sunyi tanpa teman
Sesak dan penat menyerbu tanpa jeda
Membolak-balikkan sederet abjad mengirim pesan singkat hanya sebatas mengabarkan Aku baik walau lelah raga dan kacau pikiran

Ma.. Aku rindu pada tawa yang selalu terukir disetiap percakapan

Makassar, 23/03/2020

Sabtu, 25 Mei 2019

Berita kepada kawan


Tidakkah kau sadar
Apa yang pernah berlalu kini tergores luka
Menggantungkan diri
tanpa kau pedulikan

Lalu tiba-tiba dari kejauhan
Kau memanggilku
Setelah semua yang kau keluarkan
Kau pikir aku melupakannya

Tidak segampang itu kawan
Kau menabur luka yang tumbuh subur lalu kau pergi meninggalkanku
Luka ini menjalar luas, kawan...

Tidakkah kau punya nurani
kata maaf pun bagimu sulit
Apalagi bagiku yang terluka
rupanya kau pun tak paham

Kau nyaris asing bagiku
dulu kita dekat bahkan sangat dekat
Susahmu kubantu
dan bahagia mu kau pergi
Aku tak memandang itu semua menerima perlakuanmu dengan lapang

Lucu ya
Kaupun menggoreskan lukamu
pada statusmu
Tentang setiap lukamu bersamaku

Aku bertahan lama dengan tingkah mu
Kau polos dan lugu tapi dibalik itu, entahlah...
Aku tak mampu berkata lebih
Karena bagaimanapun kau tetap yang terbaik

Sadarlah kawan...
Dunia kita masih panjang
Masih banyak pergumulan yang lebih hebat lagi
Menunggu kita didepan

Perpanjangan langkahmu
Lapangkan ketulusan hatimu
Dan juga perbaiki sikap
Agar nanti kau sampai pada keabadian yang semestinya

By Petronela

Kamis, 27 Desember 2018

Sepucuk surat untuk Tuhan

Tuhan...
Salahkah jika Aku mencintainya
Tuhan...
Aku berharap kelak kami akan berjumpa saat mentari kembali memijar

Tuhan...
rasa ini tumbuh begitu saja
Ketika dia sering memperhatikanku

Jika mencintainya adalah sebuah dosa
Aku mohon tolong hapuskan dia dari benakku
Hilangkan segala rasa yang ada

Tuhan...
Jika kami memang tidak bisa sejalan
Mengapa takdir mempertemukan kami pada titik yang sama

Aku sadar tak bisa memilikinya sepenuhku
Aku bukanlah seseorang yang pertama dihatinya

Tuhan...
Aku hanya mencoba menunggu
Tidak menganggu hubungnya
Apakah itu masih salah

Jika cinta tanpa harus memiliki
Barangkali mengenang kesendirian adalah cara terbaik menghibur hati
Sabar melihatnya mencintai orang lain yang bukan Aku

Tuhan...
Aku lebih memilih mendekap sepi daripada menjatuhkan hati kelain tempat
Bila bukan jemarinya yang mengisi erat jemari tanganku
Aku tetap ada untuknya

Tuhan...
Kembalikan dia tuk mencintaiku
Aku tak ingin kehilangannya
Aku ingin dia yang tadahi tetesan airmataku

Tuhan...
Aku ingin bersamanya
mencintainya sampai nanti

Rabu, 26 Desember 2018

Kemunafikan

Lantaran salah
Yang tak berakal
Alampun tak berpihak
Tindakannya nyaris berakhir tragis

Seperti tak beretika
Bicara yang tak karuan
Tanpa disadari
Ia terlarut dikedangkalan teramat sangat

Ku mencari segala peluang
Menjauhkan kuping dari suara histerisnya
Hingga denting baitnya tak lagi kutatap